Lewobele – Krisis air bersih masih menjadi persoalan yang terus dihadapi warga Desa Lewobele dari tahun ke tahun. Hingga kini, sebagian masyarakat, khususnya di Dusun Tanapuken dan Dusun Waiwoten, masih harus berjuang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan air bagi keluarga mereka.
Air bersih yang digunakan warga sebagian besar berasal dari bak penampungan umum yang berada di kawasan lebih rendah di sebelah utara kampung. Kondisi geografis yang menanjak membuat warga harus mengangkut air secara manual menuju rumah masing-masing, sebuah pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan waktu setiap harinya.
Karena beratnya medan yang harus dilalui, banyak warga memilih melakukan aktivitas mandi dan mencuci langsung di sekitar bak penampungan air umum. Di lokasi tersebut tersedia satu unit kamar mandi dan WC umum yang dimanfaatkan bersama oleh masyarakat.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan air minum dan keperluan di rumah, warga harus membawa sendiri air ke rumah atau membelinya dari para penjaja air keliling. Ketergantungan terhadap pasokan air dari luar desa semakin tinggi terutama saat musim kemarau tiba.
Setiap hari pada musim kemarau, kendaraan pengangkut air, mulai dari mobil pikap hingga dump truck, tampak hilir mudik memasok air bersih ke Desa Lewobele. Air tersebut didatangkan dari sumber mata air Wainebo di Desa Baya yang menjadi andalan pasokan bagi masyarakat.
Harga air yang harus dibayar warga pun tergolong cukup mahal. Untuk tiga jeriken dengan total kapasitas sekitar 90 liter, warga dikenakan biaya sebesar Rp10.000. Sementara pembelian dalam satu drum dipatok seharga Rp25.000. Jika dihitung, harga air bersih mencapai sekitar Rp125.000 per meter kubik, jauh lebih tinggi dibandingkan tarif air perpipaan di banyak daerah.
Kondisi ini menjadi beban tersendiri bagi masyarakat, terutama bagi keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Di tengah kebutuhan air yang merupakan kebutuhan dasar, warga berharap adanya solusi jangka panjang berupa pembangunan sistem penyediaan air bersih yang mampu menjangkau seluruh permukiman, sehingga mereka tidak lagi bergantung pada pasokan air dari luar desa maupun harus mengangkut air melalui medan yang menanjak setiap hari. (Teks: Simpet)