Info&tanya jawab

Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juni 2025

Kondisi Rusak Berat, Ruas Jalan Desa Lewobele-Baya Sulit Dilintasi

Foto: Stefania Lelu
Lewobele – Kondisi ruas jalan yang menghubungkan Desa Lewobele dan Baya di wilayah Pulau Adonara saat ini mengalami kerusakan berat dan dikeluhkan oleh para pengguna jalan. Aspal yang menutupi badan jalan sebagian besar telah terkelupas, menyisakan permukaan yang tidak rata, berlubang, dan dipenuhi batu-batu yang membahayakan pengendara, terutama kendaraan roda dua.
Berdasarkan keterangan warga, ruas jalan tersebut terakhir kali diaspal sekitar belasan tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, lapisan aspal mengalami kerusakan akibat faktor usia, cuaca, serta intensitas penggunaan jalan yang cukup tinggi. Hingga kini, kondisi jalan terus memburuk dan belum mendapatkan penanganan yang memadai.

Senin, 17 April 2023

Warga Lewobele Lakukan Kerjabakti Bulanan Membersihkan Bahu Jalan Utama

Foto: Saleh Atulolon

Lewobele – Semangat gotong royong masih terus terjaga di tengah masyarakat Desa Lewobele. Hal tersebut terlihat dari pelaksanaan kerja bakti bulanan yang dilakukan warga untuk membersihkan bahu jalan strategis nasional yang melintasi desa tersebut yang selama beberapa waktu terakhir ditumbuhi rumput dan semak belukar.
Kegiatan yang dilaksanakan pada akhir pekan tersebut melibatkan warga dari berbagai kelompok umur. Sejak pagi hari, masyarakat berkumpul di titik-titik yang telah ditentukan untuk membersihkan sisi kiri dan kanan jalan aspal yang menjadi akses utama transportasi warga desa.

Jumat, 06 November 2020

Video: Ruas Jalan Penghubung Lamawato-Tanapuken

Lewobele – Masyarakat Desa Lewobele kini dapat menikmati akses transportasi yang lebih baik setelah ruas jalan penghubung Lamawato–Tanapuken sepanjang kurang lebih 2 kilometer selesai dirabat beton. Infrastruktur yang sebelumnya mengalami berbagai kendala kini berubah menjadi jalan yang mulus dan nyaman dilalui kendaraan.
Peningkatan jalan tersebut membawa dampak positif bagi mobilitas masyarakat. Jika sebelumnya warga harus berhati-hati melintasi jalan yang kurang memadai, kini perjalanan antara Lamawato dan Tanapuken dapat ditempuh dengan lebih cepat dan aman. Waktu tempuh yang sebelumnya relatif lebih lama kini hanya sekitar 5 menit menggunakan kendaraan bermotor.

Kamis, 28 Maret 2019

Ini Kondisi Jalan Rabat di Dusun Lewopulo

Foto: Joria Parmin
Foto: Joria Parmin
Lewobele – Kondisi infrastruktur di Dusun Lewopulo, Desa Lewobele, masih menyisakan tantangan bagi masyarakat. Salah satunya adalah jalan rabat beton yang menjadi akses utama warga namun masih melintasi alur sungai tanpa dilengkapi jembatan.
Saat cuaca cerah, jalan tersebut masih dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat dengan hati-hati. Namun ketika hujan turun dan debit air sungai meningkat, arus yang melintasi badan jalan sering kali membuat akses transportasi terganggu. Demi keselamatan, warga biasanya memilih menunggu hingga debit air surut sebelum melanjutkan perjalanan.

Rabu, 28 November 2018

Kondisi Rabat Jalan Ruas Lewobele-Baya di Tanapuken

Foto: Rhok Kinrol

Jumat, 01 Juni 2018

Kondisi SD Inpres Lewobele Yang Memprihatinkan: Sebuah Antitesis Pembangunan

Foto: Januarius Jawa Bala

Keterangan Foto: Ruangan kelas V SDI Lewobele, Kecamatan Adonara Tengah (saat ini), Kabupaten Flores Timur.
  
Kala itu pada hari Sabtu (3 Juni 2017), saya bersama dua orang teman melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Adonara Tengah, tepatnya di desa Lewobele untuk melihat dari dekat kondisi SDI Lewobele. Inisiatif untuk memantau keadaan sekolah ini dilakukan segera setelah ada “data” berbicara melalui FOKAL FLOTIM dalam demonstrasi di DPRD Kabupaten Flores Timur.
Ketika itu suara kritis bergema mengapa Pemerintah dan DPRD menetapkan anggaran untuk membeli 3 mobil dinas Pimpinan DPRD Flores Timur dan 2 mobil dinas Bupati dan wakil bupati (yang nota bene masih sangat layak pakai), padahal masih ada kebutuhan pembangunan yang jauh lebih prioritas yakni sarana pendidikan yang layak untuk anak didik di Flores Timur. Kritik konstruktif ini kemudian memicu kepedulian untuk melihat secara langsung apa benar masih ada kebutuhan pendidikan yang sangat prioritas.
Kenyataan di lapangan menampilkan potret yang sangat menyedihkan. Murid kelas V menjalankan proses pembelajaran di ruangan bekas mess guru yang sudah sangat reot (seperti terlihat dalam foto). Sungguh sangat tidak layak dalam kondisi normal – regular di jaman kemerdekaan Negara republik Indonesia yang sudah mencapai usia 72 tahun.
Menurut kepala sekolah, bukan saja murid kelas lima mengalami kondisi yang memprihatinkan, tetapi juga murid kelas dua yang melakukan proses pembelajaran di emperan salah satu ruangan kelas karena ketiadaan ruang kelas bagi mereka. Ketika musim hujan, para murid dan guru harus “kabur” menghindari percikan air hujan agar tidak basah kuyup. Itu berarti proses belajar mengajar harus berhenti untuk sementara. Suatu kondisi yang sangat jauh dari yang ideal untuk tuntutan suatu proses transfer ilmu dan pembentukan karakter yang pantas.
Pertanyaannya, mengapa sebagian potret dunia pendidikan di Flores Timur begini kelam? Di manakah komponen-komponen yang bertanggung jawab ? Apa saja kerja pemerintah sehingga membiarkan generasi bangsa telantar seperti ini? Apakah Anggaran Daerah tidak bisa dipakai untuk membangun ruangan belajar untuk anak bangsa?
Bisa saja orang menjawab dengan versinya masing-masing untuk pertanyaan yang kita ciptakan dan kembangkan setelah melihat kondisi sekolah. Bagi saya, ungkapan yang tepat dari potret ini adalah antithesis pembangunan. Pembangunan yang diharapkan dan yang seharusnya adalah tindakan yang menyelamatkan, tindakan yang memajukan, tetapi fakta lapangan dari kerja pembangunan oleh pemerintah (sebagai pelaku utama) selama bertahun-tahun masih mempertontonkan ‘kepedihan’ yang sulit diungkapkan dengan kata-kata dalam berbagai sudut pandang negasi.
Mana mungkin kita mengharapkan peningkatan kualitas sumber daya manusia Flores Timur (generasi cerdas dan berkarakter pancasilais), kalau Negara sebagai institusi besar mengabaikan rakyatnya sendiri di bawah gubuk reot karena para pemimpinnya masih beretorika, mencari pencitraan, membela diri, dan suka menjadi artis berpakaian seragam. Mana mungkin perubahan besar terjadi kalau wakil rakyat yang dipercayakan duduk di dalam gedung terhormat tidak produktif, kritis, kontruktif dan pro rakyat.
Nestapa pembangunan yang terlihat melalui keadaan Sekolah Dasar Inpres Lewobele, hanyalah fenomena gunung es antithesis pembangunan di Kabupaten Flores Timur. Yang terlihat hanya sedikit, tapi mungkin saja ada begitu banyak kenyataan buruk pembangunan yang masih tersembunyi.
Catatan kecil ini tidak bermaksud mencari solusi atas kemacetan pembangunan yang sedang terjadi dalam banyak segi kehidupan, tetapi ingin menyampaikan satu pesan bahwa setiap kita yang berperanan untuk kemajuan, terutama komponen-komponen utama pelaku pembangunan semestinya memainkan perannya secara sungguh dan bertanggung jawab penuh. Dengan demikian, kita tidak menjadi bagian dari antithesis pembangunan dan memperpanjang narasi kegagalan, tetapi menjadi pelaku dan bagian dari “mesin” kemajuan yang pro-rakyat yang pantas untuk dikenang sebagai inspirasi yang terus hidup dalam sanubari dari generasi ke generasi. (Januarius Jawa Bala, Anggota DPRD Flores Timur)